September 27, 2005
September 26, 2005
September 25, 2005
August 29, 2005
April 24, 2005
March 29, 2005
bimbang
aku tak tahu harus mulai dari mana
aku tak tahu harus menulis apa
di tangan ku suka
di tangan ku duka waktu berkisah
lagu cinta ingin ku nyanyi kan
namun lidah ku kaku hati ku beku
lagu cinta pelan pelan bangun kan aku
mencari apa yang di cari
menunggu apa yang di tunggu
aku merasa di kejar waktu
mentari mulai tergelincir
aku tak tahuapakah sajak aatau puisi ku akan ikut tersingkir ??
March 28, 2005
surat untuk hujan
Hujan yang jelek,
Kristal benci kamu! Kemarin, waktu Kristal pulang sekolah, kamu turun deraaaaas….sekali. Airmu menembus ke dalam tas Kristal. Gara-gara itu, buku-buku Kristal rusak semua.
Kamu tahu, Jan? Kristal betul-betul sedih. Kamu ‘kan tahu Kristal selalu menjaga buku-buku Kristal baik-baik. Bayangkan bagaimana sedihnya Kristal melihat buku-buku itu basah kuyub. Tulisan di buku Kristal luntur semua, tidak bisa diperbaiki, padahal Kristal masih harus belajar dengan buku-buku itu selama tiga tahun, sampai Kristal lulus SMU.
Setelah merusak buku-buku Kristal, kamu masih belum puas juga. Airmu, yang masuk melalui jendela bus yang tidak bisa ditutup, menjitaki kepala Kristal. Kristal kesal! Kok masih sempat-sempatnya kamu meledek Kristal?
Waktu Kristal mentapmu dengan marah dan kecewa, kamu tidak mau kalah. Mendungmu yang murung, gunturmu yang mengagetkan, seperti sengaja mengajak Kristal berkelahi.
Sekarang Kristal demam, nih, Kristal jadi tidak bisa masuk sekolah! Padahal hari ini ulangan biologi dan kimia. Gara-gara kamu, Kristal terpaksa ikut ulangan susulan. Kamu tidak pernah sekolah ‘kan, Jan? Pantas saja kamu tidak tahu bagaimana tidak enaknya ulangan susulan!
Hujan, apa, sih salah Kristal? Kristal memang nggak pernah menyukai kesan muram dan sedih yang selalu kamu bawa. Tapi apa Kristal pernah menyakiti atau mengganggu kamu? Tidak ‘kan?!! Kok kamu tega, sih, Jan? Kok kamu jahat?!!!
Kristal
Kristal melipat surat untuk Hujan, kemudian menitipkan surat itu pada Angin. Dua hari kemudian, Hujan membalas surat Kristal.
Kristal yang manis,
Hujan minta maaf. Sebetulnya Hujan tak pernah bermaksud menyakiti kamu. Hujan sayang padamu. Kamu sendiri ‘kan yang duluan memusuhi Hujan?Kamu memang tidak pernah menyakiti Hujan…secara fisik… tapi coba bayangkan betapa sedihnya Hujan setiap kamu menatap benci keluar jendela waktu Hujan turun? Hujan tahu. Sebetulnya kamu ingin sekali menyakiti Hujan. Kalau ada pisau yang bisa membelah mendung dan membuat mendung berdarah, Hujan yakin kamu menjadi orang pertama yang melukai mendung.
Kamu mencintai semua saudara Hujan. Kamu menyukai langit siang hari yang biru dan putih, lembayung yang oranye-ungu, langit malam dan bintang-bintangnya…dari semua anggota keluarga Langit, cuma Hujan yang kamu benci. Hujan sedih jika mendengar saudara-saudara Hujan bercerita tentang kamu; betapa manisnya kamu, bagaimana kamu mencintai dan memuja mereka…Hujan tidak bisa ikut dalam pembicaraan itu karena kamu memang tidak pernah bersikap manis dan mencintai Hujan.
Padahal Hujan sudah berusaha menarik perhatian kamu. Kamu ingat, tidak, Hujan pernah sengaja tidak turun waktu kamu sedang bertanding basket. Malah pernah pada suatu kali, Hujan menunggu sampai kamu masuk ke dalam rumah sebelum melepaskan air yang Hujan bawa. Hujan juga pernah turun agak lama supaya kamu bisa berteduh di sekolah, mengobrol lebih lama dengan teman-temanmu, kemudian membiarkan kamu menjadikan Hujan alasanmu pulang sore. Ibumu tidak menyalahkan kamu, dia menyalahkan Hujan. Hujan bersedia menerima umpatan ibumu karena Hujan pikir dengan begitu kamu bisa melihat betapa Hujan sungguh-sungguh ingin bersahabat denganmu.
Tapi ternyata setelah semua itu kamu tetap membenci langit mendung dan Hujan. Kamu sama sekali tidak pernah mengingat kebaikan yang Hujan coba berikan padamu. Kalau ada temanmu yang menganggap Hujan manis dan romantis, kamu akan memprovokasi mereka supaya ikut membenci Hujan. Sekarang Hujan balik bertanya. Apa salah Hujan?
Kristal sayang,
Hujan juga punya batas kesabaran. Empat hari yang lalu Hujan tidak bisa menahan kekecewaan Hujan pada kamu. Hujan pikir, “Kalau kamu memang menganggap Hujan jahat, pemurung, dan perusak, oke! Inilah Hujan yang perusak itu!” Maka turunlah Hujan sederas-derasnya, menjadikan langit segelap-gelapnya, dan menyambarkan petir sekeras-kerasnya. Hujan membiarkan kamu dan barang-barangmu basah kuyub, membiarkan kamu kedinginan sampai akhirnya jatuh sakit.
Tapi sekarang Hujan menyesal. Hujan sadar Hujan memang keterlaluan. Hujan tidak tega melihat kamu menangis sambil mengeringkan buku-buku pelajaranmu dengan hair dryer, melihat kamu tertidur kecapaian di sofa ruang tamu, melihat wajah kamu memerah karena demam…maafkan Hujan, ya…
Untuk menebus kesalahan Hujan, tiga hari yang lalu Hujan sengaja tidak turun. Hujan membiarkan matahari bersinar secerah-cerahnya supaya barang-barangmu yang basah bisa dijemur, supaya kamu tidak bertambah sakit ketika menatap pemandangan di luar jendela, …
Tapi hari ini Hujan harus turun lagi, maaf, ya. Sekarang bulan Oktober, bulan sibuk untuk Hujan. Setelah semua yang Hujan lakukan kemarin, Hujan mengerti kalau kamu jadi benci pada Hujan. Sekarang Hujan bisa terima. Hujan memang tidak bisa berubah menjadi teduh dan indah seperti saudara-saudara Hujan yang lain karena memang beginilah adanya Hujan; muram dan gelap.
Semoga cepat sembuh, Kristal, mulai sekarang Hujan berjanji sebisa mungkin tak akan menyakitimu lagi…
Hujan
Kristal melipat surat yang baru diterimanya. Ia menyingkap tirai jendela kamarnya, kemudian menatap Hujan yang sedang turun dengan derasnya.
Sekarang Kristal tahu bahwa dia adalah bagian dari kemurungan Hujan sore itu. Maka Kristal mencoba tersenyum pada Hujan, menawarkan sebuah hubungan baru; persahabatan.
Entah kenapa langit berangsur mencerah…..
Meskipun Hujan masih turun rintik-rintik
IBU
Terkenangkan suatu wajahBegitu ayu mampu memikatMata terpaku hati berdebarPundak henti dari berputarJantung henti dari berdegupWajah mu sering di mataku
Tutur bicara mu ituHalus susun bahasa muKerap-kali memujuk hatiLembutnya sentuhan mu itukeayuan wajah mu Kerap-kali menghilangkan resah